Thursday, June 24, 2010

Bila Pesta Bahagia Berbuah Petaka (bag 1)

Di atas meja penulis melihat sebuah kartu undangan berwarna coklat keemasan, bertabur kerlap-kerlip butiran pasir keemasan dan berbau wangi, dari pengirimnya penulis mengetahui undangan dari seorang tetangga yang lumayan diakui kondisi “perekonomiannya”, Alhamdulillah ada yang mengundang ke walimah pernikahan.

Namun ketika melihat dalam undangan penulis jadi tercenung, karena disitu dicantumkan bahwa ada acara hiburan wayang kulit dan hiburan musik “live” bagi para undangan. Lha pantas dari tadi pagi sudah terdengar sampai kerumah suara musik “dangdutan” seperti yang biasa dilakukan orang-orang yang mempersiapkan sebuah pesta pernikahan, penulis jadi menghela nafas... datang atau tidak? Sebuah pesta pernikahan yang seharusnya menjadi awal “start” sebuah rumah tangga yang indah dan sakinah berubah menjadi ajang keburukan dan maksiyat kepada Allah Ta’ala... haruskah ini terjadi?

Pergi ke salon kecantikan untuk berhias

Hal ini adalah kemunkaran dan termasuk kejahilan yang nyata, namun yang sering kita temui adalah banyak dari kalangan masyarakat umum selalu menjadikan salon kecantikan (baik pergi ke salon kecantikan langsung atau memanggil tukan salonnya untuk datang kerumah), justru seseorang pengantin yang tidak ke salon akan menjadi hal yang aneh. Padahal sudah diketahui bersama bahwa dalam proses periasan pengantin sering dari tukang rias melihat beberapa bagian tubuh (aurat) pengantin wanita untuk dirias – kebanyakan tukang rias pengantin adalah pria-, bagaimana mungkin bagi seorang wanita muslimah menyerahkan tubuhnya untuk dipermainkan oleh laki-laki yang asing baginya? Maka jika sang suami membiarkan pengantinnya melakukan hal ini maka dia telah menjadi “ad-dayyuts” yaitu laki-laki yang tidak memiliki kecemburuan pada istrinya dan laki-laki yang membiarkan kemungkaran terjadi dalam keluarganya.

Berhiasnya mempelai wanita dan tamu wanita pada malam pesta

Bukan hal yang tabu lagi di zaman sekarang ini kita melihat pasangan pengantin dirias dengan hiasan yang tidak sesuai dengan syari’at Islam, dengan alasan mengikuti kebiasaan umum dan malu jika pengantin dibiarkan begitu saja tanpa riasan maka sudah tidak ada lagi rasa malu dari pihak pengantin wanita, baik dari pengantin wanita sendiri maupun keluarganya membiarkan “tabbaruj” ala jahiliyah ini terjadi. Bahkan riasan dan dandanan ini memang dibuat untuk dipertontonkan di muka umum. Semakin mewah dandanan sang pengantin maka semakin bangga keluarga mereka dan diharapkan gengsi keluarga akan diakui oleh masyarakat. Jika perlu maka akan didatangkan tukang rias yang mahal dan terkenal agar riasan pengantin wanita tidak terlihat kampungan.

Selain itu dari kalangan tamu wanita yang datang tidak kalah “menor” untuk saling bersaing mempercantik diri dengan dandanan yang berlebihan, mulai dari riasan wajah, pakaian, sepatu hak tinggi, hingga parfum yang bertebaran di sana sini, tak terhitung pemalsuan dan pengelabuan dalam malam pesta pengantin ini.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “...dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu...” (QS. Al-Ahzab : 33)

No comments:

Post a Comment